Kritik Dampak Frasa “Jodoh Ga Akan Kemana”

Hari ke 6815. Tulisan keduaku. Bermula dari sebuah chat di line berkenaan dengan wanita, salah satu candu kehidupan. Pembicaraan mengarah kepada calon istri dan kemudian entah apa alasannya, dan barangtentu pasti ada, temanku menuliskan jodoh ga akan kemana, yang akhirnya membuat justifikasi kepada ketidakmampuannya atau penundaannya dalam pencarian pendamping hidup. Disini aku bermaksud untuk menyampaikan ketidaksetujuanku akan akibat yang mungkin ditimbulkan dari frasa itu.

Tentang Frasa

Tentang jodoh ini, dengan dasar pemikiran Al Qur’an, maka aku mengkatagorikan setiap  apa yang kita lewati ialah jodoh. Dan apabila diartikan sebagai manusia, pun tetap aku pada definisiku. Mereka mereka yang bertemu denganku adalah sudah berjodoh untuk bertemu denganku. pun begitu juga ketika memang jodoh dipersempit menjadi pendamping.

Menurutku frasa itu ada karena sebuah kepercayaan akan sudah ditetapkannya pasangan kita, atau hal seperti itu memang sudah diatur oleh Tuhan semenjak dahulu kala. Dan untuk itu, aku percaya pemikiran itu berasal dari :

“Wahai manusia, bertaqwalah kamu sekalian kepada Tuhanmu yang telah menjadikan kamu satu diri, lalu Ia jadikan daripadanya jodohnya, kemudian Dia kembangbiakkan menjadi laki-laki dan perempuan yang banyak sekali.” [QS. An Nisaa (4):1].

Sehingga aku mendapati bahwa artian atau maksud dari frasa ini adalah untuk menyatakan kalau memang harus adanya ketenangan karena memang sudah ada yang mengatur untuk itu semua.

Dampak

Tentu ada berbagai macam dampak yang ditimbulkan seperti rasa tenang dan lain sebagainya. Hanya saja juga ada dampak seperti “biar sajalah, jodoh ga akan kemana.” yang membuat menjadi effortless.

Pertama, aku menyamakan posisi usaha mendapatkan jodoh dengan usaha untuk mengubah nasib. Yang dari sana sudah ada kontradiksi dari kepercayaannya, karena dengan menganggap premisku benar maka seharusnya dampak untuk menjadi effortless dan pasrah begitu saja tidak akan terjadi, kecuali memang orang itu tidak benar benar menginginkannya. Hal ini dikarenakan Tuhan sendiri menjelaskan dalam Al Quran :

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ” QS 13:11

Jadi bagaimana mungkin seseorang yang mendasari pemikirannya pada Al Quran kemudian menolak atau tidak melakukan apa yang Al Quran katakan ?

Dan bagaimana dengan kemungkinan seperti ini…
Bagaimana jika jodoh tidak terkekang pada kehidupan dunia ? maksudku ini bisa saja jodoh pada kehidupan di Akhirat, Mengingat kuasa Tuhan dan beberapa skenario hari akhir yang sudah dibeberkan, tidakkah mungkin kehdupan kita di hari akhir juga sudah direncanakan oleh Tuhan ?? Jadi bagaimana mungkin kamu begitu yakin kalau jodoh yang sudah dipersiapkan Tuhan itu adalah jodoh didunia ?

Lalu, adakah kemungkinan istri kita bukan jodoh kita ? darimana kita tahu istri kita jodoh kita ? kita toh cuman bisa percaya dan husnudzon kalau memang itu yang direncanakan ? tapi nyatanya memang iya toh itu ga akan dibuka tabirnya kan ??

Intinya ada banyak ketidakpastian juga dari jodoh itu… ada banyak pertanyaan yang dilahirkan daripadanya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s