Madilog : Iklim

Hari ke 6812. Tulisan pertama. Tentang apa yang kudapat diMadilog.

Perbedaan keadaan Tan Malaka dengan Soekarno dan Hatta.

Adanya perbedaan kondisi kehidupan dari Tan Malaka dengan Soekarno dan Hatta. Dituliskan pada buku ini pada tahun 1942an.

  • Kala melakukan sebuah perjalanan, sebuah penyebrangan antar pulau. Kapal yang ditumpangi oleh Tan Malaka jauh berbeda dan kurang keadaannya dibandingkan dengan kapal yang ditumpangi oleh dwitunggal itu. Meski berangkat pada waktu yang sama dengan jarak yang tidak jauh berbeda, waktu yang dibutuhkan jauh berbeda. Tan Malaka menuliskan waktunya dua kali lebih lama dibanding pemimpin bangsa itu.
  • Dalam Pembuangan, lamanya pembuangan Tan Malaka dituliskan dua kali lebih lama dibanding Soekarno yang 10 tahun itu, Tan malaka tidak dikembalikan dengan resmi – Entah kabur atau apa ? aku menangkap dia kabur. yang membuatnya tidak mendapatkan izin kerja, dan Soekarno sudah mendapatkan izin guna melakukan propaganda terkait dengan anjuran rakyat indonesia untuk bekerja sama dengan jepang.

Catatan : Dalam penulisannya, aku melihat kalau ada ketidaksukaan akan sikap Soekarno yang lemah lembut dan cenderung melakukan kerja sama dengan Jepang kala itu.

  • Kala soekarno dan Hatta memang selalu disambut dan dilindungi oleh rakyat indonesia, Tan Malaka hidup dalam pelarian selama lebih dari 20 tahun lamanya.

Dibalik Madilog

Dalam kehidupan pelarian itu dituliskan bahwa Tan Malaka berniat untuk menuliskan tiga buku, Madilog, Federasi Asia-sebuah federasi Asia Australia, Pengalaman beliau selama kehidupannya itu.

Dalam penulisannya, kerangka bukunya memang sudah berada didalam kepalanya. Barangtentu sudah tinggal dituliskan dan dicetak. Tetapi dengan pertimbangan sulitnya untuk mengirim buku dari luar kedalam indonesia, dan memang terkendala permintaan maka diurungkan niatnya hingga memang Madilog akhirnya berhasil dicetak juga.

Catatan : Walaupun tentunya Tan Malaka memiliki uang untuk mencetak dan adanya niatan baik, perlu untuk mempertimbangkan permintaan dari masyarakat ( permintaan disini tentunya berkaitan dengan kemungkinan terbelinya buku yang dicetak olehnya ).

Kala itu, Tan Malaka menuliskan kalau kemampuan dan jumlahnya proletar mesin dan tanah di Indonesia sudah tidak dapat dikatakan sedikit. Dan memang sudah cukup kuat untuk merebut kekuasaan dari tangan belanda. Tapi apa mungkin ? Nyatanya walaupun dapat dikatakan ” penguasaan teknologi ” sudah mumpuni dan jumlahnya cukup kuat, tapi rakyat masihlah belum memiliki pandangan dunia, visi dunia  Weltanschaung  yang cukup. Walaupun merdeka, maka kemerdekaan itu tidak akan mengubah kondisi kehidupan secara langsung dan signifikan.

Perpustakaan

Banyak dikisahkan, dan tentu sudah sering kita dengar terkait bagaimana pemimpin pemimpin dunia yang membawa banyak buku ketika pada masa pembuangannya, tidak perlu diluar negeri, bahkan didalam negeri pun demikian.

” Bagi seseorang yang hidup dengan pikiran yang mesti disebarkan, baik dengan pena maupun dengan lisan perlulah pustaka dan ilmu yang cukup. Seorang seperti tukang takkan bisa membangun gedung kalau saja semennya tak ada ” Tan Malaka, Madilog Hal : 12.

Catatan : Menurut Maxwell, dikatakan kalau kadar atau indikator pemimpin dapat dilihat dari seberapa berpengaruh dia. Dan tentunya, pengaruh adalah tauladan, pengaruh adalah ajakan, pengaruh adalah bagaimana pemikiran dapat disebarluaskan keberbagai pihak. Jadi sudah pasti akan bergantung pada seberapa banyak dia tahu, dan darimana dia tahu ? sudah jelas itulah arti dari kepustakaan yang dimaksudkan oleh Malaka.

Disini Malaka bercerita sulitnya baginya untuk mengumpulkan kepustakaannya-yang masih diartikan dengan buku olehnya. Karena harus menjadi buron, sedang kegesitan adalah kunci dari pelarian, maka sudah jelas kalau buku buku itu adalah pemberat dalam pelarian itu.

Catatan : Maka dari itu, kepustakaan sendiri tidak terbatas dari buku. karena memang fungsi utamanya adalah sebagai pengingat, dan ilmu guna melakukan sesuatu sehingga selama tujuan itu tercapai maka tidak perlu selalu buku. Hal ini bisa direduksi menjadi ingatan, refleksi dari kehidupan atau apapun itu selama memang dapat terus diingat dan dikeluarkan saat dibutuhkan.

Pada 15 februari 1942, dituliskan Malaka sedang membaca Das Kapitalnya Marx. namun terhalang sehingga tidak selesai karena memang sedang dalam pelarian itu lagi.

Catatan : Malaka diperkirakan meninggal tahun 40an akhir, sehingga aku berpikir tidak mungkin dalam 7 tahun membuat dia dijuluki seorang kiri. Kenapa dia yang kiri baru membaca sumbernya kiri ditahun itu ? apa dia menemukan jalan efektif adalah mempelajari pemikiran kiri secara perlahan kemudian ke puncak ? atau memang kiri, keinginan untuk “sama rata”-digeneralisir saja. itu fitrah manusia ?

Madilog menurut Tan Malaka

MADILOG, ialah paduan dari permulaan suku kata (MA)-TTER. (DI)ALECTICA. (LOG)IC. Yangmana akan dijelaskan pada bab berikutnya secara lebih jauh. Ia berbeda dengan pandangan dunia Weltanschaung yang dijelaskan. Madilog adalah cara berpikir. Sebuah Pisau analisis. Tidak sebuah pandangan dunia.

Catatan : Menurutku memang bukan sebuah pandangan dunia, tapi MADILOG sendiri adalah ajakan dan pengenalan pada sebuah cara memandang dunia. Karena tulisannya pada bab bab berikutnya sangat condong kepada aspek aspek madilog. ( Materialistis, Dialektis, Logika )

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s